Badanku ini, semenjak kecil memang tak biasa dimanjakan oleh barang-barang berkelas dan ber-merk, jelas sulit tentu untuk seorang anak dari sebuah keluarga berkepala seorang PNS beranak enam, maka rezeki yang sudah diatur besarannya itu sengaja dicukup-cukupkan terutama untuk kebutuhan pangan, sandang seadanya, lalu kalau ada lebihnya baru ke papan. Memang jadinya ibu harus memutar otak sangat keras untuk rezeki yang sebesar itu bisa dibagi-bagi secara pas, pastilah karna itu pula ibu jadi sering pusing-pusing.
Sewaktu ibuku masih beranak tiga, waktu anak-anaknya masih sd termasuk aku, sudah jadi semacam adat istiadat bahwa sepatu sekolah kami haruslah sepatu bermerk warior dan tidak boleh tidak, tentu kau tau sepatu warior kan? sepatu warior adalah sepatu yang paling kukenal detil2nya luar dalam, kurang lebih adalah sepatu berbahan kain tebal seperti jeans berwarna hitam didasari karet warna putih, garis merah tipis berwarna merah mengeliling dari ujung ke ujung sedikit di bagian atas telapak, dan yang paling penting: selalu di bagian mata kaki-nya terdapat tempelan karet bulat pipih warna putih, di situlah terdapat gambar timbul seorang pria indian setengah badan telanjang dada sedang menarik panah dari busur atau versi lainnya sedang mengayun kapak, kupikir pria indian luar biasa inilah yang bernama warior itu karna dibawahnya terpampang tulisan “warrior” dengan huruf sambung.
Seingatku ibu mengganti sepatu kami tidak setiap tahun, tapi setiap sepatu itu mulai tak enak dipakai karna bawahnya berlubang lubang sehingga kerikil bisa masuk menusuk-nusuk, atau ketika bagian depannya menganga sampai bau kaus kaki bisa mengganggu isi kelas. Karna harganya yang bersahabat maka warior dijadikan sebagai sepatu favorit kami, bukan nike, adidas, atau sepatu hitam berlampu yang waktu itu sempat ngetrend sampai hampir setengah murid di kelas memakainya, aku? tentulah pelanggan setia warior sampai akhirnya ada saudara merelakan sepatu bekasnya yang bukan warior kepadaku waktu SMA.
Masih di jaman sd pula, sempat aku merajuk berhari-hari untuk dibelikan tas gendong ber-merk Exsport saja ketika kenaikan kelas nanti, bagaimana tidak? Hampir semua anak lelaki saat itu dengan keren menggendong tas bertuliskan Exsport..dan entah kenapa tiap anak lelaki yang menggendong tas Exsport eselalu akan nampak wibawanya dimata orang-orang terutama para murid perempuan, maka ketika akhir tahun tiba ibuku benar2 membelikan tas impian ber-merk sama hanya saja rupanya tertinggal satu huruf bukan Exsport teman, tapi Esport, meskipun masih sd aku sedikit faham tentang arti gengsi, enggan tas Esport itu untuk kubawa ke sekolah walupun tetap saja aku memakainya, toh aku punya ide brilian diakhir-akhir..kupakai tas itu serampangan supaya cepat jebol dan dibelikan yang baru, yang tak Exsport pun tak apa, tapi dimana-mana memang setiap yang bernama ibu itu selalu sangat menyayangi anaknya..maka ketika tas itu sudah benar2 rusak ibu membelikannya dengan yang baru, kali ini dengan huruf lebih besar dibelakangnya “ESPORT”..lalu aku menyerah.
Mengenai merk2 tiruan ini bisa disebut sebagai imitasi, tentulah berjubelan di negeri ini, produsen amatiran yang latah berlomba mendompleng merk2 ternama, logo dibuat serupa kemudian memplesetkannya 1-2 huruf hingga kelihatan sama. Ibuku bukannya terlalu lugu untuk membedakan mana yang merk asli mana yang imitasi, hanya saja karena hampir selalu dilanda krisis budget yang minim membuat ia begitu terlatih sampai ke level maestro pemegang teguh prinsip ekonomi sejati: mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan biaya serendah2nya, nah di pikiran ibuku ini tentulah barang2 dengan merk tiruan berbiaya produksi rendah itu jadi solusi; ah anak-anakku tetap dapat mengikut trend walau dengan imitasi. Maka ketika aku telah smp, dibelikannya aku sepasang sandal gaya setengah resmi, katanya buat pergi ke acara2 yang lumayan penting, masih aku ingat sandalnya warna abu-abu, empuk dan enak dipakai, tapi tak enak dilihat karna ada tulisan mencolok mata berwarna kuning coklat “Nyu Era”, sedikit-sedikit aku jadi ingat pelajaran bahasa indonesia juga, yang model begini ini kalo tidak salah termasuk kedalam kategori homofon..beda tulisan tapi sama pelafalan..ah benar2 strategi produsen jenius bukan beneran. Maka pada suatu hari yang mendadak mendung, mukaku merah merona ketika teman2ku cekikikan karna aku memakai sandal yang sama persis dengan temanku hanya saja berbeda tulisan..New Era.
Berdasarkan pemikiranku waktu beranjak sma, masa sma adalah masa yang tidak bisa disia-siakan begitu saja, adalah saat yang tepat untuk unjuk gaya, artinya semakin kau bergaya maka semakin banyak lirikan maut dari gadis-gadis kembang kelas. Dan naluri sang ibu selalu mampu mencium gelagat anak bujangnya yang mulai genit-genit menjijikan itu, sepulang dari pasar itu ibuku menenteng cukup banyak belanjaan perlengkapan sekolah buat aku dan adik-adik, dari jauh saja aku sudah tau yang ibu bawa salah satunya adalah tas gendong biru ngejreng berukuran besar model skater yang waktu itu sedang trend, pasti itu buat aku, adiku masih terlalu kecil untuk memakai tas sebesar itu, maka dengan sangat berbahagia aku menghampiri ibu.. sigap sekali, dalam hati khidmat aku berteriak: “selamat datang gayaaaaa!!!”, lalu kukeluarkan tas gendong itu dari kantong plastik besar dengan mata berbinar tapi selanjutnya melotot-lotot kaget ketika melihat dibagian belakangnya di sablon tulisan besar-besar kurang ajar: BODYPAC…tanpa huruf K. Tulisannya sungguh besar, kapital, warnanya kuning..kontras dengan warna biru tas-nya, dari jarak dua puluh meter saja kukira kau pasti masih bisa membacanya jelas tanpa huruf K. Jadi ketika berminggu-minggu tak kupakai juga tas itu, ibuku mulai bertanya keheranan mengapa tas biru itu tak pernah kupakai? Lantas dengan berdalih hebat kubilang: sayang mah, tas lama masih bisa dipakai. Ah..sungguh anak yang terpuji..pasti begitu pikir ibuku.
Hari yang telah ditentukan itupun tiba, pagi kelabu..tiba2 tas lamaku putus tali gendongnya akibat terlalu lama bekerja keras mengangkut bobot yang sering melebihi kapasitas maksimal, tas biru model skater yang berminggu-minggu tergantung lemas dipojokan kamar mendadak tersenyum senang..lalu tertawa..makin kencang..makin kencang…terbahak-bahak..ah betul betul kurang ajar kau tas.
Maka, seperti ninja, pagi itu kulangkahkan kaki dengan cepat masuk kelas..berusaha tak terlihat siapapun, lalu dengan cekatan memasukkan tas biru itu di laci kolong meja yang sialnya tidak cukup, lalu dengan terpaksa kutaruh di bangku saja, teman-teman yang kemudian melihat tas baru itu mulai menggoda dengan nada..cie cie..yang menyebalkan, lalu memegangi perut terkekeh kekeh puas ketika tahu merk-nya apa, kurang ajar memang, tapi aku sudah kebal kawan..memang didikan ibu dari kecil sungguh bermanfaat..aku jadi tak terlalu memusingkan teman laki2 yang mulai menghina hina itu..kalau sempat malah kuhadiahi mereka dengan senyuman manis terbaik sambil mengedip mata, tapi kekebalanku terhadap ejekan rupanya belum mencapai tahap paripurnanya, masalahnya adalah: satu murid perempuan cantik pujaan setiap pria, berkacamata..kurus tinggi putih, dia juga melihat tas biru itu lalu dengan berbisik-bisik dari jauh dia ikut terkikik kikik dengan sekumpulan perempuan lainnya..ah mukaku mulai memerah, kembali merona…pasti.
Tentu aku bisa tau meski tak berkaca, ketika telinga dan mukaku memerah maka itu terasa panas, tapi aku tak tau seberapa kepiting rebusnya wajahku waktu itu, entah kenapa pula kali ini aku sedikit frustasi..tiba2 saja ingin kulempar tas biru itu jauh2 tinggi ditelan langit. Lalu aku mulai memaki diri mengutuki, lalu diam..menahan emosi..
*****
Sebetulnya aku masih sedikit emosi..sedikit, ketika pulang menemui ibu, rupanya ia sedang sibuk mencuci setumpuk mangkok bekas mie ayam dan beberapa gelas bekas es campur, dan entah kenapa baru kusadar kalau ia kulihat begitu kurus, matanya sayu keletihan, rambutnya diikat seadanya, entah sejak kapan pula ia tak lagi memperhatikan penampilannya, kapan terakhir kali kulihat ia berdandan? Ah baru aku ingat..sudah sejak beberapa tahun terakhir memang, sejak ibuku memutuskan turut berjuang di garda depan menjadi pencari nafkah..meringankan beban bapak, membuka warung mie ayam warung kecil dipinggir jalan, ini adalah salah satu bentuk buah ide dari memutar otak..tujuannya bukan muluk2 untuk menambah penghasilan, melainkan untuk sirkulasi keuangan supaya gaji yang diberi suaminya tiap bulan itu tidak kandas ditengah bulan, cukup untuk menghidupi anaknya yang enam.
Melihatku pulang dengan tas biru itu ibuku tersenyum bangga dan berkata “akhirnya dipake juga tas barunya” sambil ia tetap mencuci piring, aku cuma membalas dengan senyum, maka kutatap lagi tas biru BODYPAC itu, bagaimanapun tas ini adalah persembahan terbaik dari ibu, untuk bisa mendapatkannya bukanlah hal yang mudah tapi hasil akumulasi perjuangan panjang seorang ibu, aku mulai mengerti bahwa tas biru itu dibeli dari kesabaran menyisih sedikit demi sedikit uang berbulan-bulan, dibeli dari tekad bangun subuh-subuh buta sepanjang hari untuk segera menuju ke pasar yang becek dan bau, dibeli dari beratnya menenteng belanjaan dan jauhnya melangkah dari tepi jalan raya hingga ujung gang demi menghemat ongkos becak, dibeli dari letihnya menunggui warung sejak pagi hingga malam demi dua, lima, hingga sepuluh mangkok mie ayam terjual, dibeli dari usaha meracik bumbu hingga malam sepekat gulita untuk dimasak esok harinya, aku kini tahu kalau semua benda imitasi itu dibeli dari sebuah mimpinya untuk membahagiakan anak-anak yang dia amat sayangi.
Lalu aku tiba2 saja mengingat semuanya berbeda; sepatu keren Warior, tas berkelas Esport, sandal mahal Nyu Era, hingga tas skater terbagus BODYPAC. Kudekap tas itu erat, takkan pernah lagi aku mencoba membayangkan melemparnya tinggi tinggi ditelan langit.
tas saya yang bemerk e…. (bukan export) masih ada sejak kelas 4 SD, dan masih dipakai sampai sekarang kuliah tingkat 4..klo udah nyaman mah, merk bukan alasan..hehehehhhh….