Birthday

Posted: Desember 8, 2008 in Uncategorized
“Lalu..untuk hati seluar biasa mereka,
yang keikhlasannya melampaui langit-langit tertinggi dunia,
dan pengorbanannya yang sanggup mencium wangi surga,
yang kita bisa derma hanyalah terima kasih yang sekedarnya”
 
Teman, pernahkah kau tanyakan pada ibumu bagaimana kita dilahirkan dulu? aku pernah, ibuku bilang dari ke-enam anaknya, kelahiranku adalah kelahiran yang paling menyusahkan, sore itu ibuku bercerita dengan sedikit mata berkaca sambil sesekali tersenyum…pancaran kesabaran khas seorang ibu bukan? aku bagi ceritanya buat kalian, semoga ada yang bisa dipetik dari sini…

28 Oktober 1984 dini hari, di tanggal yang bersejarah itulah aku dilahirkan, di musim hujan yang sering merepotkan buat sebuah keluarga kecil sederhana yang tinggal di desa terpencil, daerah perbukitan di pinggiran kota Bandung, tidaklah mudah buat bisa sampai ke tempatku itu di musim hujan, kau mesti benar2 berhati-hati menjejak langkah jika tak mau terperosok karena licin…jalanan sebagian besar masih berupa jalan tanah yang berupa tanjak turunan. Mobil belumlah bisa masuk teman, jalannya setapak melewati sawah-sawah, satu2nya kendaraan modern waktu itu yang bisa masuk hanyalah motor..yang bapakku belum punya

Hujan rintik rintik malam itu, ibuku tiba2 mengeluh kesakitan…rupa2nya aku yang waktu itu masih di dalam perut sudah tidak sabaran ingin melihat dunia, bapakku bingung bukan kepalang…dua anak sebelum ini, dilahirkan saat ia masih tinggal di sebuah kamar kontrakkan kecil tengah kota..jadi mudah saja dibawa ke rumah bersalin terdekat, tapi anak yang ketiga ini memang tak mau kompromi, ia lebih memilih dilahirkan ke bumi disaat sulit, di tanggal tua saat keuangan tinggal sedikit sisa, di malam gelap gulita dihias siraman hujan tak reda-reda, di pelosok negeri yang tak tersentuh dunia..

PNS muda berkumis itu kemudian mencari bala bantuan di tengah gulita yang harusnya tidur jadi kegiatan paling nikmat sedunia, beruntunglah ada tetangga dekat yang berbaik hati, yang tak sekedar mau meminjamkan becaknya..tapi mengendarainya pula..Mas Suwardi namanya, seorang pemuda anak tetangga yang masih duduk di bangku SMA…malam itu ia masih mengenakan celana abu2nya, bersama bapak ia membopong ibuku ke dalam becak milik  ayahnya…lalu menggenjot becak sekuat tenaga dijalanan lembek..sementara itu, bapakku pergi mencari-cari pinjam motor dan sedikit uang…ia berencana menyusul di jalan, “pake motor biar cepat sampe” katanya..

Ditengah perjalanan yang berat itu ibu berkali kali mengerang, “bayinya mau keluar…” Mas suwardi cuma bisa diam sambil terus menggenjot becak mengerahkan tenaga sisa..sekali2 ia turun dari becak saat mendorongnya di tanjakan, sudah hampir separuh perjalanan tapi bapak belum muncul jua dengan motor pinjamannya..sampai tiba di sebuah rumah sakit besar saat becak mau dibelokkan kesana ibu berkata “Jangan di rumah sakit yang ini mas, engga sanggup mbayarnya nanti..” Mas Suwardi cuma bisa geleng2 kepala…di saat sekritis ini masih saja memikirkan masalah biaya, ibuku tau persis berapa pendapatan suaminya itu, yang serba minim..dan akan sangat memberatkan nantinya jika ia harus membayar sangat mahal untuk sebuah persalinan..itu dia alasannya yang bikin ibuku nekat, akhirnya becak itu urung dibelokkan..semakin kuat saja ia menggenjot becak ke rumah sakit terdekat…bapakku tak pernah muncul sampai saat becak tiba di rumah sakit bernama Santo Yusup..Mas Suwardi membopong sendiri ibu, sesaat sebelum dikeluarkan dari becak, rupanya ibuku sudah tak sanggup menahan keinginan sang bayi menghirup nafas diluar sana…akhirnya “bim salabim” muncul kepalaku duluan dari rahim..keduanya panik tak keruan..tergesa sampai akhirnya tiba di kamar bersalin…

Sekira pukul 1 dini hari ba’da perjalanan mendebarkan, bayi innocent yang tak tau diri itu akhirnya berhasil dikeluarkan dengan selamat..

Beberapa menit setelah kelahiran, barulah bapakku muncul dengan basah kuyup dan wajah cemas..rupa2nya di tengah jalan tadi motornya mogok..dan mau tak mau ia menuntunnya sampai sini…

Sore itu ibu mengakhiri cerita ini dengan sedikit jenaka…katanya, begitu keadaan mulai tenang, Mas Suwardi memperlihatkan celana abu2nya yang menganga sampai pangkal paha…rupanya robek saat membopong ibuku tadi “celana ini ga akan aku jahit…buat kenang2an” kata pemuda berkulit gelap itu, bapak dan ibuku cuma bisa tersenyum..sambil entah harus berbuat apa untuk mengungkap terima kasih mereka buat pemuda luar biasa di depannya…

Alhamdulillah….kau izinkan aku melihat dunia

“Tiap kali aku ingat bagaimana lahir ke dunia,
sungguh-sungguh aku berdo’a
Ya Rabb,  jangan jadikan aku sia-sia buat mereka..”
 
Kamu? bagaimana dengan kelahiranmu teman?
Komentar
  1. debuterbang mengatakan:

    akhirnya muncul juga.
    adalah sebuah kebanggan untuk bisa menyulut dan mengobarkan gelora banyak jiwa git.
    gw hanyalah pemantik, yang menyadarkan banyak teman2 luar biasa gw bahwa dengan kapasitas yang sudah sebegitu hebatnya, sebenarnya mereka masih bisa tumbuh tinggi dan berkembang besar, sampai batas-batasnya.

    keep writing bro….
    nice story eniwei, pantas we lo jadi “the lucky guy” git, udah bawaan orok rupanya, hehe

    • jejakmusafir mengatakan:

      Ah…debuterbang yang melegenda itu!! astaga, sebuah kehormatan besar kau mau mampir ke blog ku yang sederhana ini…kekeke

  2. tito mengatakan:

    happy birthday kang..barakallah..

  3. hilmasol54 mengatakan:

    Ya, hilma ingat,,hari sumpah pemuda!!!
    cieh,,gaya,,miladnya dirayain ma pemuda se-Indonesia…
    *walopun sudah tua juga,,,hehehehhhh

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s