![]()
Beberapa waktu yang lalu oleh panitia, aku diminta membawakan do’a saat acara gathering divisi kantorku, spontan aku tolak mentah-mentah seketika itu juga…lah atas dasar apa mereka tiba-tiba memintaku jadi pembawa do’a? tapi panitia tetap bersikukuh, bahwa yang membawakan do’a haruslah salah seorang dari kami (para trainee yang baru saja masuk)…rupanya usut punya usut ketua kelasku-lah yang merekomendasikan namaku, sial memang dia..(hehe..pis!), aku cuma bisa diam seribu kata…alamak apatah jadinya jika orang yang seperti aku ini disuruh mbawa doa, aku yang banyak dosa, yang sholat saja masih sering terlambat, yang do’a setelahnya pun masih sering sekenanya lalu melesat secepat kilat…ah, aku pulang sambil bersungut2..
Dalam perjalanan pulang aku ingat pepatah seorang teman…iseng aku menamakannya “filosofi pantat ayam” yang bisa membuatku sedikit lega…
Hari itu aku membuka doa dengan kalimat singkat…kurang lebih begini
“Adalah berat untuk saya berada di depan sini, membawakan doa untuk para ahli ibadah.. tapi saya belajar banyak dari pantat ayam, bukankah telur itu tetap kita ambil, tetap kita makan , meski itu keluar dari pantat seekor ayam?
seperti halnya doa, meski itu keluar dari seorang saya…”
“Bismillah…” lalu aku mulai berdo’a….
Selesai berdo’a aku senyum-senyum sendiri…kalau doa itu telurnya, berarti mulutku ini?
hehehe……. nanti gw akan menulis list tentang 10 kemiripan lo dan pantat ayam git, hahahaha….
perkataan diatas sebenarnya munculnya dari ali, kalau gw ga khilaf, nanti gw cari lagi literaturnya
kau telat bung, aku sudah buat sendiri 10 kemiripan itu…kekeke
Btw..gw harus menyampaikan pada dunia…doa yg gw bawakan itu, puisi buatan debuterbang…hehe
hasilnya beberapa orang bilang…so touching…hmm…pastinya!
Hmmm,,
(i) telur keluar dari pantat ayam adalah benar
(ii) do’a keluar dari mulut Kang Sigit adalah benar
jika do’a=telur maka mulut Kang Sigit=pantat ayam adalah benar.
kurang lebih logika matematik spt itu,,
he he he he…