Sekiranya judi itu dihalalkan aku berani bertaruh, kalau ada seratus orang jadi penonton sedang dia sudah mulai bicara di depan, maka kurang lebih begini yang akan terjadi; delapan puluh orang berdecak kagum, delapan belas gadis jatuh hati, dan dua orang sisanya yang acuh saja adalah pengidap autis dan tuli akut.
Pemuda canggih pintar bicara itu dulunya kupikir pastilah mantan tukang obat di pasar kaget, tapi melihat dia berjenggot sejumput di dagunya, gaya bicara yang santun, elegan, dan sering memakai istilah-istilah modern yang membikin kerut kening à semisal esensi atau entitas, maka aku berubah pikiran, sebenarnya mungkin saja kalau dia itu titisan bung karno, tapi itu sangat tidak logis sedang aku masih cukup mampu berfikiran sangat rasional; bagaimana mungkin titisan bung karno tidak memakai kopiah?? maka aku putuskan bahwa dia pastilah mantan sales asuransi syariah muda yang pernah sukses, tapi kemudian dipecat bosnya karena kebanyakan bicara.
Dialah pemuda kata-kata, walaupun dari segi wajah rata-rata saja tapi lihatlah jika dia mulai ber-retorika: gesture-nya luwes enak dilihat, menarik dan lihai seperti lionel messi menggocek bola, intonasinya pandai disesuaikan, kadang syahdu seperti orang yang baru saja kehabisan saldo di tanggal tua, lebih sering lantang membakar dada, runtut kata-nya rapih apik seperti skenario film box office, maka secara keseluruhan retorika-nya adalah sihir tiada tanding, paling tidak di seantero kampus ini, kalau kau perlu bukti, seumur hidup belum pernah aku mendengar kata esensi dipakai secara live, bukan di televisi bukan di buku, maka siapakah orang yang bicaranya lebih hebat selain orang yang menggunakan kata esensi ketika berdiskusi?? Super sekali.
Perkenalanku mengalir begitu saja, kami satu jurusan dan satu angkatan, satu manuver kehidupan dahsyat yang dia lakukan adalah saat dia memilih mengorbankan dirinya untuk menjadi wakil koordinator di angkatan kami, sungguh mulia tabiatnya, menjadi koordinator ataupun wakilnya berarti menyerahkan penuh jiwa raga pada apa yang namanya peraturan turun temurun para senior, sekaligus menjadi tameng bagi kesalahan rekan-rekannya: puluhan lelaki botak dan sepuluh wanita yang hampir setengahnya tomboi, maka menurutku patutlah jasa koordinator dan wakilnya itu disejajarkan dengan jasa para politikus negeri yang jujur tanpa pamrih. Tapi sungguh malang nasib pemuda, di jurusan yang tercinta ini, bahkan retorika kelas kakap pun akan sangat jarang mampu mencuri hati para senior-senior galak, baru saja pemuda itu menarik nafas berencana membuka jurus dengan prolog yang elegan lalu mengatur intonasi supaya pas, sang senior mendelik tajam lalu berkata tegas tanpa ampun: “push up kamu!! “..buyarlah sudah strateginya.
Seiring waktu, kami berteman dekat, dan akhirnya tau bahwa ternyata dalam banyak hal kami memiliki kesamaan, namun dalam banyak hal pula aku jauh tertinggal darinya maka bagiku dia adalah sahabat, rival, idola, sekaligus guru kehidupan. Apa yang terjadi jika ada hubungan pertemanan antara anak sulung (pemuda itu) dan anak tengah (aku) maka seperti kamilah gambarannya: si anak tengah lebih banyak menjadi pendengar dan sulung sebagai pembicaranya, tapi bisa dibilang hubungan kami adalah hubungan simbiosis mutualisme: si sulung sangat perlu pendengar, dan si tengah adalah tempat penampungannya, tapi bagi si tengah itu bukan sesuatu yang menyiksa, lewat celotehan nyaris tanpa jeda-nya lah ia justru menikmati bentuk persahabatan ini, menyimak ceritanya adalah memulung ilmu lewat cara yang mengasyikkan; seringkali si tengah mengerjap-ngerjap kagum mendengar kepiawan si sulung berkisah dan lebih takjub lagi ketika sadar..hei bukankah kita sudah berteman hampir enam tahun? dan kau masih saja punya stok cerita yang tak habis-habis untuk dibagi, darimana kau dapatkan semuanya itu??
Seperti halnya aku, dia berteman dengan tak banyak orang, hanya beberapa saja, dan semua yang beberapa itu, termasuk aku, sepakat bahwa beliau -selain dari jelmaan J.S Badudu: penguasa kamus besar bahasa indonesia- adalah juga Kamus Encarta (kamus segala tau) berjalan, pemuda itu adalah alternatif favorit kami ketika google sedang tak terjangkau, tentu saja alternatif yang menguntungkan, jika untuk mengakses google kita harus jauh-jauh ke warnet ditambah minimal mengeluarkan dua ribu rupiah, maka dengan bertanya pada sang pemuda Encarta kau akan dapatkan solusi hanya dengan bayaran sebuah senyuman secukupnya,
tanyalah padanya bagaimana caranya menyambungkan beberapa kabel dari beberapa televisi ke dalam satu antena yang sama,
tanyalah pula padanya bagaimana bisa kungfu dan thifan saling berkaitan,
tanya dia bagaimana peta yang kita buat di map info bisa begitu error ketika datanya dipindah ke komputer lain,
tanya dia dari manakah pisang ijo berasal dan apa perbedaan beberapa variasinya di tiap-tiap daerah,
tanyalah apa saja..maka dia akan menjelaskan minimal lima menit tuntas tanpa jeda…dahsyat! Maka pada suatu siang yang terik di tengah tugas lapangan perkuliahan, aku lagi-lagi mengerjap kagum ketika kami secara sadar melewati sebuah pohon aren, lalu dengan spontan dia menjelaskan bagaimana gula aren itu dibuat, detail sekali dari mulai penyadapan sampai benar-benar jadi gula! kalau saja aku membawa stopwatch aku yakin betul penjelasannya mestilah tak kurang dari lima menit waktu itu…dahsyat!
***
Pemuda itu bukanlah dari keluarga berkecukupan sama halnya denganku, masalah yang berkaitan dengan hal-hal materiil sudahlah ia mafhum kalau akhirnya jadi teman sehari-hari, maka kehidupan kami ibarat kembar tak jauh beda: baju dan celana kuliah yang itu-itu saja cukuplah diganti dua atau tiga hari sekali, biaya kuliah yang menunggak, jarang punya sertifikat seminar atau kursus karena hampir tak ada uang lebih, susah dihubungi karena handphone bututnya sedang dijual, sangat gemar makan nasi setumpuk dengan satu tempe, kuah sayur dan sambal, tidak pernah membuat tersenyum tukang ojek, sama-sama bau keringat, karena bagi kami membeli deodoran demi tidak makan siang adalah satu bentuk kekejaman hakiki. Bagaimanapun aku lebih beruntung tinggal di rumah sendiri dengan orangtua, sedang dia adalah mahasiswa rantau yang mesti kost. Suatu sore yang hujan, ia rela menyerahkan enam ribu rupiahnya yang sangat berharga untuk dibelikan bensin bagi motor bututku yang kehabisan, tentulah agar aku yang sedang melarat juga bisa sama-sama berangkat kuliah ke dago, sekitar satu jam ia merunduk pegal dibelakang jok dibawah jas hujan dengan sepatu yang sama-sama kuyup kebasahan, tanpa keluhan.
Pertemanan kami yang bertahun-tahun itu, membuatku paham betul gelagatnya, beberapa kali dia main dan menginap di rumahku, dan aku tau persis kapan ia datang dengan niat bersilaturahmi dan kapan dia datang dengan niat bersilaturahmi dan tujuan-tujuan tertentu, aku tak pernah keberatan karena dia adalah sahabat senang dan susah, maka bagiku adalah suatu kebahagiaan jika bisa sedikit saja menenangkannya dengan menyuguhkan sekedar teh manis hangat atau mie ayam buatan ibu. Satu hari kelabu, kondisi keluargaku sedang dalam masa sangat kritis, aku tak berharap siapapun datang bertamu pagi itu, karena kami sedang tak punya apapun, benar-benar tak punya apapun, tapi sahabatku itu datang sungguh tak diharapkan, sedang aku tau –lewat intuisi– ia dalam kondisi kehabisan uang, maka aku merana menyuguhkannya air putih saja, melihatnya tetap bercerita dari pagi sampai sore dengan keletihan yang ditutup-tutupi, sedang aku terlalu malu berkata bahwa aku sedang tak punya apa-apa. Tapi tuhan selalu mendengar, pukul empat sore tiba-tiba ibu mengetuk kamar, menyajikan nasi goreng hangat sederhana, spesial untuk pemuda itu, lalu aku bahagia melihat ia menyantap lahap, ternyata seorang tetangga baru saja membayar hutang, aku bersyukur dalam-dalam Subhanallah, Alhamdulillah…
Sahabatku yang satu itu ajaib, bagiku dia adalah contoh nyata pejuang sejati yang pantang menyerah, selalu gigih untuk belajar lebih baik dari orang lain (kecuali belajar geologi), lewat letupan-letupan semangatnya lah aku ikut terbakar, maka jika teman-temannya sedang jatuh ia mulai ber-retorika: orang macam kita ini lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, sejak kecil prestasi kita biasa-biasa saja, bahkan hal terhebat yang pernah kita lakukan sampai sekarang-pun adalah menjadi yang biasa-biasa saja, maka jika yang kita hanya punya adalah sekedar semangat dan kita biarkan semangat itu pergi, itu artinya kita telah membiarkan kita tak punya apa-apa lagi
Suatu sore yang tenang, saat aku mulai patah semangat dengan skripsi yang tak kunjung usai, sedang ia telah lulus dan bekerja di perusahaan besar, dia mengirimiku sms:
Tiap-tiap aku terjatuh dan terpuruk, aku selalu bangkit, karena aku ingin kisah hidupku berakhir dengan cerita seorang pahlawan heroik yang keep standing whatever does it take, untuk keluarga, untuk bakti seorang anak, untuk ketegaran seorang kakak, dan cinta seorang pemimpi….
Dan aku terbakar lagi….
