Pemuda Kata-Kata

Posted: September 3, 2010 in Uncategorized

Sekiranya judi itu dihalalkan aku berani bertaruh, kalau ada seratus orang jadi penonton sedang dia sudah mulai bicara di depan, maka kurang lebih begini yang akan terjadi; delapan puluh orang berdecak kagum, delapan belas gadis jatuh hati, dan dua orang sisanya yang acuh saja adalah pengidap autis dan tuli akut.

Pemuda canggih pintar bicara itu dulunya kupikir pastilah mantan tukang obat di pasar kaget, tapi melihat dia berjenggot sejumput di dagunya, gaya bicara yang santun, elegan, dan sering memakai istilah-istilah modern yang membikin kerut kening à semisal esensi atau entitas, maka aku berubah pikiran, sebenarnya mungkin saja kalau dia itu titisan bung karno, tapi itu sangat tidak logis sedang aku masih cukup mampu berfikiran sangat rasional; bagaimana mungkin titisan bung karno tidak memakai kopiah?? maka aku putuskan bahwa dia pastilah mantan sales asuransi syariah muda yang pernah sukses, tapi kemudian dipecat bosnya karena kebanyakan bicara.

Dialah pemuda kata-kata, walaupun dari segi wajah rata-rata saja tapi lihatlah jika dia mulai ber-retorika: gesture-nya luwes enak dilihat, menarik dan lihai seperti lionel messi menggocek bola, intonasinya pandai disesuaikan, kadang syahdu seperti orang yang baru saja kehabisan saldo di tanggal tua, lebih sering lantang membakar dada, runtut kata-nya rapih apik seperti skenario film box office, maka secara keseluruhan retorika-nya adalah sihir tiada tanding, paling tidak di seantero kampus ini, kalau kau perlu bukti, seumur hidup belum pernah aku mendengar kata esensi dipakai secara live, bukan di televisi bukan di buku, maka siapakah orang yang bicaranya lebih hebat selain orang yang menggunakan kata esensi ketika berdiskusi?? Super sekali.

Perkenalanku mengalir begitu saja, kami satu jurusan dan satu angkatan, satu manuver kehidupan dahsyat yang dia lakukan adalah saat dia memilih mengorbankan dirinya untuk menjadi wakil koordinator di angkatan kami, sungguh mulia tabiatnya, menjadi koordinator ataupun wakilnya berarti menyerahkan penuh jiwa raga pada apa yang namanya peraturan turun temurun para senior, sekaligus menjadi tameng bagi kesalahan rekan-rekannya: puluhan lelaki botak dan sepuluh wanita yang hampir setengahnya tomboi, maka menurutku patutlah jasa koordinator dan wakilnya itu disejajarkan dengan jasa para politikus negeri yang jujur tanpa pamrih. Tapi sungguh malang nasib pemuda, di jurusan yang tercinta ini, bahkan retorika kelas kakap pun akan sangat jarang mampu mencuri hati para senior-senior galak, baru saja pemuda itu menarik nafas berencana membuka jurus dengan prolog yang elegan lalu mengatur intonasi supaya pas, sang senior mendelik tajam lalu berkata tegas tanpa ampun: “push up kamu!! “..buyarlah sudah strateginya.

Seiring waktu, kami berteman dekat, dan akhirnya tau bahwa ternyata dalam banyak hal kami memiliki kesamaan, namun dalam banyak hal pula aku jauh tertinggal darinya maka bagiku dia adalah sahabat, rival, idola, sekaligus guru kehidupan. Apa yang terjadi jika ada hubungan pertemanan antara anak sulung (pemuda itu) dan anak tengah (aku) maka seperti kamilah gambarannya: si anak tengah lebih banyak menjadi pendengar dan sulung sebagai pembicaranya, tapi bisa dibilang hubungan kami adalah hubungan simbiosis mutualisme: si sulung sangat perlu pendengar, dan si tengah adalah tempat penampungannya, tapi bagi si tengah itu bukan sesuatu yang menyiksa, lewat celotehan nyaris tanpa jeda-nya lah ia justru menikmati bentuk persahabatan ini, menyimak ceritanya adalah memulung ilmu lewat cara yang mengasyikkan; seringkali si tengah mengerjap-ngerjap kagum mendengar kepiawan si sulung berkisah dan lebih takjub lagi ketika sadar..hei bukankah kita sudah berteman hampir enam tahun? dan kau masih saja punya stok cerita yang tak habis-habis untuk dibagi, darimana kau dapatkan semuanya itu??

Seperti halnya aku, dia berteman dengan tak banyak orang, hanya beberapa saja, dan semua yang beberapa itu, termasuk aku, sepakat bahwa beliau -selain dari jelmaan J.S Badudu: penguasa kamus besar bahasa indonesia- adalah juga Kamus Encarta (kamus segala tau) berjalan, pemuda itu adalah alternatif favorit kami ketika google sedang tak terjangkau, tentu saja alternatif yang menguntungkan, jika untuk mengakses google kita harus jauh-jauh ke warnet ditambah minimal mengeluarkan dua ribu rupiah, maka dengan bertanya pada sang pemuda Encarta  kau akan dapatkan solusi hanya dengan bayaran sebuah senyuman secukupnya,

tanyalah padanya bagaimana caranya menyambungkan beberapa kabel dari beberapa televisi ke dalam satu antena yang sama,

tanyalah pula padanya bagaimana bisa kungfu dan thifan saling berkaitan,

tanya dia bagaimana peta yang kita buat di map info bisa begitu error ketika datanya dipindah ke komputer lain,

tanya dia dari manakah pisang ijo berasal dan apa perbedaan beberapa variasinya di tiap-tiap daerah,

tanyalah apa saja..maka dia akan menjelaskan minimal lima menit tuntas tanpa jeda…dahsyat! Maka pada suatu siang yang terik di tengah tugas lapangan perkuliahan, aku lagi-lagi mengerjap kagum ketika kami secara sadar melewati sebuah pohon aren, lalu dengan spontan dia menjelaskan bagaimana gula aren itu dibuat, detail sekali dari mulai penyadapan sampai benar-benar jadi gula! kalau saja aku membawa stopwatch aku yakin betul penjelasannya mestilah tak kurang dari lima menit waktu itu…dahsyat!

***

Pemuda itu bukanlah dari keluarga berkecukupan sama halnya denganku, masalah yang berkaitan dengan hal-hal materiil sudahlah ia mafhum kalau akhirnya jadi teman sehari-hari, maka kehidupan kami ibarat kembar tak jauh beda: baju dan celana kuliah yang itu-itu saja cukuplah diganti dua atau tiga hari sekali, biaya kuliah yang menunggak, jarang punya sertifikat seminar atau kursus karena hampir tak ada uang lebih, susah dihubungi karena handphone bututnya sedang dijual, sangat gemar makan nasi setumpuk dengan satu tempe, kuah sayur dan sambal, tidak pernah membuat tersenyum tukang ojek, sama-sama bau keringat, karena bagi kami membeli deodoran demi tidak makan siang adalah satu bentuk kekejaman hakiki. Bagaimanapun aku lebih beruntung tinggal di rumah sendiri dengan orangtua, sedang dia adalah mahasiswa rantau yang mesti kost. Suatu sore yang hujan, ia rela menyerahkan enam ribu rupiahnya yang sangat berharga untuk dibelikan bensin bagi motor bututku yang kehabisan, tentulah agar aku yang sedang melarat juga bisa sama-sama berangkat kuliah ke dago, sekitar satu jam ia merunduk pegal dibelakang jok dibawah jas hujan dengan sepatu yang sama-sama kuyup kebasahan, tanpa keluhan.   

Pertemanan kami yang bertahun-tahun itu, membuatku paham betul gelagatnya, beberapa kali dia main dan menginap di rumahku, dan aku tau persis kapan ia datang dengan niat bersilaturahmi dan kapan dia datang dengan niat bersilaturahmi dan tujuan-tujuan tertentu, aku tak pernah keberatan karena dia adalah sahabat senang dan susah, maka bagiku adalah suatu kebahagiaan jika bisa sedikit saja menenangkannya dengan menyuguhkan sekedar teh manis hangat atau mie ayam buatan ibu. Satu hari kelabu, kondisi keluargaku sedang dalam masa sangat kritis, aku tak berharap siapapun datang bertamu pagi itu, karena kami sedang tak punya apapun, benar-benar tak punya apapun, tapi sahabatku itu datang sungguh tak diharapkan, sedang aku tau –lewat intuisi–  ia dalam kondisi kehabisan uang, maka aku merana menyuguhkannya air putih saja, melihatnya tetap bercerita dari pagi sampai sore dengan keletihan yang ditutup-tutupi, sedang aku terlalu malu berkata bahwa aku sedang tak punya apa-apa. Tapi tuhan selalu mendengar, pukul empat sore tiba-tiba ibu mengetuk kamar, menyajikan nasi goreng hangat sederhana, spesial untuk pemuda itu, lalu aku bahagia melihat ia menyantap lahap, ternyata seorang tetangga baru saja membayar hutang, aku bersyukur dalam-dalam Subhanallah, Alhamdulillah…

Sahabatku yang satu itu ajaib, bagiku dia adalah contoh nyata pejuang sejati yang pantang menyerah, selalu gigih untuk belajar lebih baik dari orang lain (kecuali belajar geologi), lewat letupan-letupan semangatnya lah aku ikut terbakar, maka jika teman-temannya sedang jatuh ia mulai ber-retorika: orang macam kita ini lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, sejak kecil prestasi kita biasa-biasa saja, bahkan hal terhebat yang pernah kita lakukan sampai sekarang-pun adalah menjadi yang biasa-biasa saja, maka jika yang kita hanya punya adalah sekedar semangat dan kita biarkan semangat itu pergi, itu artinya kita telah membiarkan kita tak punya apa-apa lagi

Suatu sore yang tenang, saat aku mulai patah semangat dengan skripsi yang tak kunjung usai, sedang ia telah lulus dan bekerja di perusahaan besar, dia mengirimiku sms:

Tiap-tiap aku terjatuh dan terpuruk, aku selalu bangkit, karena aku ingin kisah hidupku berakhir dengan cerita seorang pahlawan heroik yang keep standing whatever does it take, untuk keluarga, untuk bakti seorang anak, untuk ketegaran seorang kakak, dan cinta seorang pemimpi….

Dan aku terbakar lagi….

Kisah Asli Lelaki Imitasi

Posted: Januari 8, 2010 in Uncategorized

Badanku ini, semenjak kecil memang tak biasa dimanjakan oleh barang-barang berkelas dan ber-merk, jelas sulit tentu untuk seorang anak dari sebuah keluarga berkepala seorang PNS beranak enam, maka rezeki yang sudah diatur besarannya itu sengaja dicukup-cukupkan terutama untuk kebutuhan pangan, sandang seadanya, lalu kalau ada lebihnya baru ke papan. Memang jadinya ibu harus memutar otak sangat keras untuk rezeki yang sebesar itu bisa dibagi-bagi secara pas, pastilah karna itu pula ibu jadi sering pusing-pusing.

Sewaktu ibuku masih beranak tiga, waktu anak-anaknya masih sd termasuk aku, sudah jadi semacam adat istiadat bahwa sepatu sekolah kami haruslah sepatu bermerk warior dan tidak boleh tidak, tentu kau tau sepatu warior kan? sepatu warior adalah sepatu yang paling kukenal detil2nya luar dalam, kurang lebih adalah sepatu berbahan kain tebal seperti jeans berwarna hitam didasari karet warna putih, garis merah tipis berwarna merah mengeliling dari ujung ke ujung sedikit di bagian atas telapak, dan yang paling penting: selalu di bagian mata kaki-nya terdapat tempelan karet bulat pipih warna putih, di situlah terdapat  gambar timbul seorang pria indian setengah badan telanjang dada sedang menarik panah dari busur atau versi lainnya sedang mengayun kapak, kupikir pria indian luar biasa inilah yang bernama warior itu karna dibawahnya terpampang tulisan “warrior” dengan huruf sambung.

Seingatku ibu mengganti sepatu kami tidak setiap tahun, tapi setiap sepatu itu mulai tak enak dipakai karna bawahnya berlubang lubang sehingga kerikil bisa masuk menusuk-nusuk, atau ketika bagian depannya menganga sampai bau kaus kaki bisa mengganggu isi kelas. Karna harganya yang bersahabat maka warior dijadikan sebagai sepatu favorit kami, bukan nike, adidas, atau sepatu hitam berlampu yang waktu itu sempat ngetrend sampai hampir setengah murid di kelas memakainya, aku? tentulah pelanggan setia warior sampai akhirnya ada saudara merelakan sepatu bekasnya yang bukan warior kepadaku waktu SMA.

Masih di jaman sd pula, sempat aku merajuk berhari-hari untuk dibelikan tas gendong ber-merk Exsport saja ketika kenaikan kelas nanti, bagaimana tidak? Hampir semua anak lelaki saat itu dengan keren menggendong tas bertuliskan Exsport..dan entah kenapa tiap anak lelaki yang menggendong tas Exsport eselalu akan nampak wibawanya dimata orang-orang terutama para murid perempuan, maka ketika akhir tahun tiba ibuku benar2 membelikan tas impian ber-merk sama hanya saja rupanya tertinggal satu huruf bukan Exsport teman, tapi Esport, meskipun masih sd aku sedikit faham tentang arti gengsi, enggan tas Esport itu untuk kubawa ke sekolah walupun tetap saja aku memakainya, toh aku punya ide brilian diakhir-akhir..kupakai tas itu serampangan supaya cepat jebol dan dibelikan yang baru, yang tak Exsport pun tak apa, tapi dimana-mana memang setiap yang bernama ibu itu selalu sangat menyayangi anaknya..maka ketika tas itu sudah benar2 rusak ibu membelikannya dengan yang baru, kali ini dengan huruf lebih besar dibelakangnya “ESPORT”..lalu aku menyerah.

Mengenai merk2 tiruan ini bisa disebut sebagai imitasi, tentulah berjubelan di negeri ini, produsen amatiran yang latah berlomba mendompleng merk2 ternama, logo dibuat serupa kemudian memplesetkannya 1-2 huruf hingga kelihatan sama. Ibuku bukannya terlalu lugu untuk membedakan mana yang merk asli mana yang imitasi, hanya saja karena hampir selalu dilanda krisis budget yang minim membuat ia begitu terlatih sampai ke level maestro pemegang teguh prinsip ekonomi sejati: mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan biaya serendah2nya, nah di pikiran ibuku ini tentulah barang2 dengan merk tiruan berbiaya produksi rendah itu jadi solusi; ah anak-anakku tetap dapat mengikut trend walau dengan imitasi. Maka ketika aku telah smp, dibelikannya aku sepasang sandal gaya setengah resmi, katanya buat pergi ke acara2 yang lumayan penting, masih aku ingat sandalnya warna abu-abu, empuk dan enak dipakai, tapi tak enak dilihat karna ada tulisan mencolok mata berwarna kuning coklat “Nyu Era”, sedikit-sedikit aku jadi ingat pelajaran bahasa indonesia juga, yang model begini ini kalo tidak salah termasuk kedalam kategori homofon..beda tulisan tapi sama pelafalan..ah benar2 strategi produsen jenius bukan beneran. Maka pada suatu hari yang mendadak mendung, mukaku merah merona ketika teman2ku cekikikan karna aku memakai sandal yang sama persis dengan temanku hanya saja berbeda tulisan..New Era.

Berdasarkan pemikiranku waktu beranjak sma, masa sma adalah masa yang tidak bisa disia-siakan begitu saja, adalah saat yang tepat untuk unjuk gaya, artinya semakin kau bergaya maka semakin banyak lirikan maut dari gadis-gadis kembang kelas. Dan naluri sang ibu selalu mampu mencium gelagat anak bujangnya yang mulai genit-genit menjijikan itu, sepulang dari pasar itu ibuku menenteng cukup banyak belanjaan perlengkapan sekolah buat aku dan adik-adik, dari jauh saja aku sudah tau yang ibu bawa salah satunya adalah tas gendong biru ngejreng berukuran besar model skater yang waktu itu sedang trend, pasti itu buat aku, adiku masih terlalu kecil untuk memakai tas sebesar itu, maka dengan sangat berbahagia aku menghampiri ibu.. sigap sekali, dalam hati khidmat aku berteriak:  “selamat datang gayaaaaa!!!”, lalu kukeluarkan tas gendong itu dari kantong plastik besar dengan mata berbinar tapi selanjutnya melotot-lotot kaget ketika melihat dibagian belakangnya di sablon tulisan besar-besar kurang ajar: BODYPAC…tanpa huruf K. Tulisannya sungguh besar, kapital, warnanya kuning..kontras dengan warna biru tas-nya, dari jarak dua puluh meter saja kukira kau pasti masih bisa membacanya jelas tanpa huruf K. Jadi ketika berminggu-minggu tak kupakai juga tas itu, ibuku mulai bertanya keheranan mengapa tas biru itu tak pernah kupakai? Lantas dengan berdalih hebat kubilang: sayang mah, tas lama masih bisa dipakai. Ah..sungguh anak yang terpuji..pasti begitu pikir ibuku.

Hari yang telah ditentukan itupun tiba, pagi kelabu..tiba2 tas lamaku putus tali gendongnya akibat terlalu lama bekerja keras mengangkut bobot yang sering melebihi kapasitas maksimal, tas biru model skater yang berminggu-minggu tergantung lemas dipojokan kamar mendadak tersenyum senang..lalu tertawa..makin kencang..makin kencang…terbahak-bahak..ah betul betul kurang ajar kau tas.

Maka, seperti ninja, pagi itu kulangkahkan kaki dengan cepat masuk kelas..berusaha tak terlihat siapapun, lalu dengan cekatan memasukkan tas biru itu di laci kolong meja yang sialnya tidak cukup, lalu dengan terpaksa kutaruh di bangku saja, teman-teman yang kemudian melihat tas baru itu mulai menggoda dengan nada..cie cie..yang menyebalkan, lalu memegangi perut terkekeh kekeh puas ketika tahu merk-nya apa, kurang ajar memang, tapi aku sudah kebal kawan..memang didikan ibu dari kecil sungguh bermanfaat..aku jadi tak terlalu memusingkan teman laki2 yang mulai menghina hina itu..kalau sempat malah kuhadiahi mereka dengan senyuman manis terbaik sambil mengedip mata, tapi kekebalanku terhadap ejekan rupanya belum mencapai tahap paripurnanya, masalahnya adalah: satu murid perempuan cantik pujaan setiap pria, berkacamata..kurus tinggi putih, dia juga melihat tas biru itu lalu dengan berbisik-bisik dari jauh dia ikut terkikik kikik dengan sekumpulan perempuan lainnya..ah mukaku mulai memerah, kembali merona…pasti.

Tentu aku bisa tau meski tak berkaca, ketika telinga dan mukaku memerah maka itu terasa panas, tapi aku tak tau seberapa kepiting rebusnya wajahku waktu itu, entah kenapa pula kali ini aku sedikit frustasi..tiba2 saja ingin kulempar tas biru itu jauh2 tinggi ditelan langit. Lalu aku mulai memaki diri mengutuki, lalu diam..menahan emosi..

*****

Sebetulnya aku masih sedikit emosi..sedikit, ketika pulang menemui ibu, rupanya ia sedang sibuk mencuci setumpuk mangkok bekas mie ayam dan beberapa gelas bekas es campur, dan entah kenapa baru kusadar kalau ia kulihat begitu kurus, matanya sayu keletihan, rambutnya diikat seadanya, entah sejak kapan pula ia tak lagi memperhatikan penampilannya, kapan terakhir kali kulihat ia berdandan? Ah baru aku ingat..sudah sejak beberapa tahun terakhir memang, sejak ibuku memutuskan turut berjuang di garda depan menjadi pencari nafkah..meringankan beban bapak, membuka warung mie ayam warung kecil dipinggir jalan, ini adalah salah satu bentuk buah ide dari memutar otak..tujuannya bukan muluk2 untuk menambah penghasilan, melainkan untuk sirkulasi keuangan supaya gaji yang diberi suaminya tiap bulan itu tidak kandas ditengah bulan, cukup untuk menghidupi anaknya yang enam.

Melihatku pulang dengan tas biru itu ibuku tersenyum bangga dan berkata “akhirnya dipake juga tas barunya” sambil ia tetap mencuci piring, aku cuma membalas dengan senyum, maka kutatap lagi tas biru BODYPAC itu, bagaimanapun tas ini adalah persembahan terbaik dari ibu, untuk bisa mendapatkannya bukanlah hal yang mudah tapi hasil akumulasi perjuangan panjang seorang ibu, aku mulai mengerti bahwa tas biru itu dibeli dari kesabaran menyisih sedikit demi sedikit uang berbulan-bulan, dibeli dari tekad bangun subuh-subuh buta sepanjang hari untuk segera menuju ke pasar yang becek dan bau, dibeli dari beratnya menenteng belanjaan dan jauhnya melangkah dari tepi jalan raya hingga ujung gang demi menghemat ongkos becak, dibeli dari letihnya menunggui warung sejak pagi hingga malam demi dua, lima, hingga sepuluh mangkok mie ayam terjual, dibeli dari usaha meracik bumbu hingga malam sepekat gulita untuk dimasak esok harinya, aku kini tahu kalau semua benda imitasi itu dibeli dari sebuah mimpinya untuk membahagiakan anak-anak yang dia amat sayangi.

Lalu aku tiba2 saja mengingat semuanya berbeda; sepatu keren Warior, tas berkelas Esport, sandal mahal Nyu Era, hingga tas skater terbagus BODYPAC. Kudekap tas itu erat, takkan pernah lagi aku mencoba membayangkan melemparnya tinggi tinggi ditelan langit.

Tidur Horor

Posted: April 19, 2009 in Uncategorized

Bayangan hitam itu muncul lagi…berkelebat, menjerit2 berteriak kencang dikedua telinga lalu tertawa tawa, aku menggigil ketakutan tapi kaku…tubuhku tak bisa bergerak, ingin bangun tapi serasa diikat sekujur tubuh seperti kesemutan, ingin teriak tapi tercekat…aku luar biasa ketakutan…semakin berontak semakin ia menjerit kencang semakin kuat ia mencengkeram tubuh…pelan pelan aku pasrah menyerah…sampai ia pergi, aku bergegas bangun…itu mimpi? bukan…itu nyata…aku masih bergetar…ketakutan…

Malam ini mungkin malam keseratus kalinya aku mengalami hal serupa, dari sejak kecil aku sering mengalami itu saat tidur…biasanya terjadi tak lama setelah terlelap, orang tua bilang itu namanya tindihan atau “reprepan”, katanya sih itu terjadi karena ada mahluk halus yang menindih tubuh kita, di Jepang bahkan dikenal dengan istilah “kanashibari” yang artinya mengikat…ada mahluk halus yang mengikat tubuh kita…(wedew!! serem abiss…)

Tak puas dengan jawaban yang berbau mistis, kemarin (karena baru inget) aku nanya dukun: mbah google…dan ternyata eh ternyata kejadian ini bisa dijelaskan secara ilmiah, yang dikenal dengan istilah “sleep paralysis”…menurut penelitinya yang bernama Dr. -entah siapa lupa namanya-  penjelasannya  begini: dalam kondisi normal ada 4 tahap yang dilalui gelombang otak sampai kita tertidur sempurna, dimulai dari keadaan sadar, tertidur ringan, tidur dalam, tidur lebih dalam, lalu tahap terakhir adalah REM (rapid  eye movement) di tahap inilah kita biasanya bermimpi. Nah, pada orang yang kelelahan atau kurang tidur ke 4 tahapan ini tidak berjalan dengan sempurna..biasanya melompat dari kondisi tertidur ringan langsung ke tahapan REM, sleep paralysis terjadi ketika otak terbangun secara tiba2 dari kondisi REM sedangkan tubuh masih tertidur, itulah penyebabnya kenapa tubuh tak bisa bergerak meskipun kita dalam kondisi sadar..biasanya disertai halusinasi bayangan gelap bawaan mimpi. Selain karena hal diatas, sleep paralysis juga dapat terjadi karena beban pikiran yg terlalu berat (kondisi stress)..

Jadi, biar tidak terulang lagi, ikuti pola tidur yang cukup dan teratur, jangan terlalu banyak beban pikiran…dan tetep jangan lupa berdoa sebelum tidur.. :)   pernah suatu hari aku mengalami sleep paralysis…empat bayangan hitam berambut panjang mengelilingi tubuhku yang diam tak bergerak tak berdaya…mereka tertawa2 kencang…mukanya menyeringai….seremmm…

insect’s hollocaust victim

Posted: Desember 9, 2008 in Uncategorized

Abang "ROCKY" Stallone

Suratan takdir yang tak pernah bisa ditebak kemana arah jalannya itu, kali ini membawaku ke sebuah pulau kecil penuh meander di sebelah timur laut Kalimantan, bernama Tarakan..sebagai karyawan perusahaan minyak nasional yang masih berstatus trainee..aku dijebloskan kesana untuk menimba ilmu tentang “Wellsite Geology”, ilmu yang luar biasa bermanfaat, kurang lebih tentang bagaimana cara mencuri-curi waktu tidur, dan membuat blog di waktu pengeboran minyak sedang berlangsung tanpa terdeteksi siapapun…

Seperti sore itu, setelah hampir seharian absen muka di Mud logging unit (camp yang memonitor segala parameter pengeboran ) ngobrol2 dengan mas2 mud logger yang berhati mulia, yang masih tetap berusaha tersenyum sabar setelah ditanya macam2 pertanyaan amatir seputar pengeboran…sambil sesekali bantu2 deskripsi cutting (sample batuan hasil pengeboran) akhirnya kepalaku mulai terasa berat..mata ini pun sudah sayu serupa 2 mata milik kakek stallone (yang akhir2 ini sibuk meneruskan sequel film box office jadulnya), akhirnya diam2 kulangkahkan kakiku keluar menuju ke portacamp (sejenis petikemas yang disulap apik jadi kamar tidur lengkap dengan kamar mandi, camp2 khas pengeboran minyak)..tujuanku kesana sudahlah jelas; menjaga agar kesehatan tubuh selalu dalam kondisi fit (baca; tidur)

Sampe di portacamp aku mulai tertidur, pulas..diiringi nada-nada merdu nan harmonis deru mesin pengeboran..ah indahnya!

hampir satu, dua jam aku tidur, menikmati mimpi-mimpi yang selalu asing dan tak terduga ceritanya..tiba2 saja hidungku mencium aroma aneh yang makin lama makin menyengat luar biasa..paru-paruku semakin kembang kempis tak keruan..nafas makin pendek saja..lamat2 kudengar suara gerung mesin yang makin kencang..mengalahkan nada2 deru mesin pemboran yang sungguh merdu itu, ah ada apa gerangan ini?! terpaksa aku membuka mata…dan sungguh luar biasa terkejut aku ketika melihat seluruh ruangan sudah berwarna putih pekat…benar2 pekat dipenuhi asap!! kali ini mataku mulai perih..panas, pikiranku tiba-tiba melayang teringat film the mist yang endingnya bikin bad mood itu…..”jangan tuhan, aku belum menikah…”

Aku meraba2 dinding kamar..sambil menahan nafas yang semakin sesak dijejali asap sialan itu..setengah berlari aku menuju keluar kompleks portacamp…sambil terus bertanya-tanya dalam hati “ada apa ini sebenarnya?” kebakarankah?

Sampai diluar aku betul2 belum sepenuhnya..separuh kesadaran masih tertinggal di alam mimpi sana, pemandangan yang kulihat saat itu sungguh nyata..kompleks portacamp sudah tak terlihat sama sekali..yang ada hanyalah kepulan asap tebal luar biasa..ada apa ini?! beberapa detik kemudian pertanyaan itu terjawab sudah, tiba-tiba dari balik kabut asap tebal itu muncul seorang bapak tua..berjalan tegap memegang sejenis senapan berbunyi nyaring menderu-deru..dari ujung senapan mesin modern berbentuk corong itu disemprotkan jutaan partikel2 zat kimia beracun berwarna putih secara membabi buta…lagi2 ko mirip kakek stallone waktu menghabisi para pecundang perang di film rambo..gagah luar biasa!! Aku tau sekarang..otakku yang kadang2 cerdas luar biasa itu mulai bekerja, bau2 aneh mirip pestisida yang dari tadi kuhirup..dan senjata itu?! astaga…rupanya pak tua itu sedang melakukan semacam pembantaian bagi kaum serangga di sekitar portacamp…fogging!!

Aku kemudian melihat sekeliling..disana di muster point (tempat berkumpulnya orang2 yang dievakuasi sebelum kegiatan fogging dimulai) tak jauh dari kompleks portacamp, puluhan mata menatapku dengan wajah absurd..gabungan antara ekspresi terkejut, menahan ketawa, sekaligus memelas…

“…Ah…” (speechless)

Birthday

Posted: Desember 8, 2008 in Uncategorized
“Lalu..untuk hati seluar biasa mereka,
yang keikhlasannya melampaui langit-langit tertinggi dunia,
dan pengorbanannya yang sanggup mencium wangi surga,
yang kita bisa derma hanyalah terima kasih yang sekedarnya”
 
Teman, pernahkah kau tanyakan pada ibumu bagaimana kita dilahirkan dulu? aku pernah, ibuku bilang dari ke-enam anaknya, kelahiranku adalah kelahiran yang paling menyusahkan, sore itu ibuku bercerita dengan sedikit mata berkaca sambil sesekali tersenyum…pancaran kesabaran khas seorang ibu bukan? aku bagi ceritanya buat kalian, semoga ada yang bisa dipetik dari sini…

28 Oktober 1984 dini hari, di tanggal yang bersejarah itulah aku dilahirkan, di musim hujan yang sering merepotkan buat sebuah keluarga kecil sederhana yang tinggal di desa terpencil, daerah perbukitan di pinggiran kota Bandung, tidaklah mudah buat bisa sampai ke tempatku itu di musim hujan, kau mesti benar2 berhati-hati menjejak langkah jika tak mau terperosok karena licin…jalanan sebagian besar masih berupa jalan tanah yang berupa tanjak turunan. Mobil belumlah bisa masuk teman, jalannya setapak melewati sawah-sawah, satu2nya kendaraan modern waktu itu yang bisa masuk hanyalah motor..yang bapakku belum punya

Hujan rintik rintik malam itu, ibuku tiba2 mengeluh kesakitan…rupa2nya aku yang waktu itu masih di dalam perut sudah tidak sabaran ingin melihat dunia, bapakku bingung bukan kepalang…dua anak sebelum ini, dilahirkan saat ia masih tinggal di sebuah kamar kontrakkan kecil tengah kota..jadi mudah saja dibawa ke rumah bersalin terdekat, tapi anak yang ketiga ini memang tak mau kompromi, ia lebih memilih dilahirkan ke bumi disaat sulit, di tanggal tua saat keuangan tinggal sedikit sisa, di malam gelap gulita dihias siraman hujan tak reda-reda, di pelosok negeri yang tak tersentuh dunia..

PNS muda berkumis itu kemudian mencari bala bantuan di tengah gulita yang harusnya tidur jadi kegiatan paling nikmat sedunia, beruntunglah ada tetangga dekat yang berbaik hati, yang tak sekedar mau meminjamkan becaknya..tapi mengendarainya pula..Mas Suwardi namanya, seorang pemuda anak tetangga yang masih duduk di bangku SMA…malam itu ia masih mengenakan celana abu2nya, bersama bapak ia membopong ibuku ke dalam becak milik  ayahnya…lalu menggenjot becak sekuat tenaga dijalanan lembek..sementara itu, bapakku pergi mencari-cari pinjam motor dan sedikit uang…ia berencana menyusul di jalan, “pake motor biar cepat sampe” katanya..

Ditengah perjalanan yang berat itu ibu berkali kali mengerang, “bayinya mau keluar…” Mas suwardi cuma bisa diam sambil terus menggenjot becak mengerahkan tenaga sisa..sekali2 ia turun dari becak saat mendorongnya di tanjakan, sudah hampir separuh perjalanan tapi bapak belum muncul jua dengan motor pinjamannya..sampai tiba di sebuah rumah sakit besar saat becak mau dibelokkan kesana ibu berkata “Jangan di rumah sakit yang ini mas, engga sanggup mbayarnya nanti..” Mas Suwardi cuma bisa geleng2 kepala…di saat sekritis ini masih saja memikirkan masalah biaya, ibuku tau persis berapa pendapatan suaminya itu, yang serba minim..dan akan sangat memberatkan nantinya jika ia harus membayar sangat mahal untuk sebuah persalinan..itu dia alasannya yang bikin ibuku nekat, akhirnya becak itu urung dibelokkan..semakin kuat saja ia menggenjot becak ke rumah sakit terdekat…bapakku tak pernah muncul sampai saat becak tiba di rumah sakit bernama Santo Yusup..Mas Suwardi membopong sendiri ibu, sesaat sebelum dikeluarkan dari becak, rupanya ibuku sudah tak sanggup menahan keinginan sang bayi menghirup nafas diluar sana…akhirnya “bim salabim” muncul kepalaku duluan dari rahim..keduanya panik tak keruan..tergesa sampai akhirnya tiba di kamar bersalin…

Sekira pukul 1 dini hari ba’da perjalanan mendebarkan, bayi innocent yang tak tau diri itu akhirnya berhasil dikeluarkan dengan selamat..

Beberapa menit setelah kelahiran, barulah bapakku muncul dengan basah kuyup dan wajah cemas..rupa2nya di tengah jalan tadi motornya mogok..dan mau tak mau ia menuntunnya sampai sini…

Sore itu ibu mengakhiri cerita ini dengan sedikit jenaka…katanya, begitu keadaan mulai tenang, Mas Suwardi memperlihatkan celana abu2nya yang menganga sampai pangkal paha…rupanya robek saat membopong ibuku tadi “celana ini ga akan aku jahit…buat kenang2an” kata pemuda berkulit gelap itu, bapak dan ibuku cuma bisa tersenyum..sambil entah harus berbuat apa untuk mengungkap terima kasih mereka buat pemuda luar biasa di depannya…

Alhamdulillah….kau izinkan aku melihat dunia

“Tiap kali aku ingat bagaimana lahir ke dunia,
sungguh-sungguh aku berdo’a
Ya Rabb,  jangan jadikan aku sia-sia buat mereka..”
 
Kamu? bagaimana dengan kelahiranmu teman?

Filosofi pantat ayam

Posted: Desember 7, 2008 in Uncategorized

ayam

Beberapa waktu yang lalu oleh panitia, aku diminta membawakan do’a saat acara gathering divisi kantorku, spontan aku tolak mentah-mentah seketika itu juga…lah atas dasar apa mereka tiba-tiba memintaku jadi pembawa do’a? tapi panitia tetap bersikukuh, bahwa yang membawakan do’a haruslah salah seorang dari kami (para trainee yang baru saja masuk)…rupanya usut punya usut ketua kelasku-lah yang merekomendasikan namaku, sial memang dia..(hehe..pis!), aku cuma bisa diam seribu kata…alamak apatah jadinya jika orang yang seperti aku ini disuruh mbawa doa, aku yang banyak dosa, yang sholat saja masih sering terlambat, yang do’a setelahnya pun  masih sering sekenanya lalu melesat secepat kilat…ah, aku pulang sambil bersungut2..
Dalam perjalanan pulang aku ingat pepatah seorang teman…iseng aku menamakannya “filosofi pantat ayam” yang bisa membuatku sedikit lega…

Hari itu aku membuka doa dengan kalimat singkat…kurang lebih begini

“Adalah berat untuk saya berada di depan sini, membawakan doa untuk para ahli ibadah.. tapi saya belajar banyak dari pantat ayam, bukankah telur itu tetap kita ambil, tetap kita makan , meski itu keluar dari pantat seekor ayam?
seperti halnya doa, meski itu keluar dari seorang saya…”

“Bismillah…” lalu aku mulai berdo’a….

Selesai berdo’a aku senyum-senyum sendiri…kalau doa itu telurnya, berarti mulutku ini?

We will walk alone

Posted: Desember 7, 2008 in Uncategorized

“We will walk alone my friend”…entah sudah berapa kali sahabatku itu bilang padaku, rupa2nya ia memang sedang mengalami episode kesendirian dalam perjalanannya kali ini…aku cuma membalas dengan senyuman, toh dalam menghadapi kesendirian itu aku justru lebih banyak mengambil pelajaran darinya, sahabatku itu jauh lebih berpengalaman daripada aku..

Dalam lauhl mahfudz, sepertinya sudah dituliskan bahwa tiap-tiap kita akan menjalani suatu masa kesendirian

Tiba2 jadi inget waktu berjuang lulus dari kampus dulu, sadar-sadar hanya tinggal beberapa gelintir saja teman angkatan yang bernasib sama, sedang sebagian besar yang dulu lulus satu per satu itu..namanya terdengar kemudian muncul satu-satu sebagai karyawan perusahaan ternama…sebagian lagi sedang melanjutkan kuliah S2 di luar negri, sementara aku..masih saja sibuk dengan urusan tetek bengek yang ga jelas, “Astaga! seolah baru terbangun dari tidur…kemana saja aku selama ini?!” tergesa-gesa aku bangun, merapikan kembali data2 skripsi yang lama tak tersentuh…bolak-balik kampus, mulai bimbingan lagi, sibuk ke perpustakaan, ke lab..dsb, yang paling berat dalam tiap pekerjaan itu..aku benar2 merasa sendiri…padahal dulu semua pekerjaan terasa ringan sembari bercanda dengan kawan2 bercerita soal akhwat manis kembang kampus (hehe), soal pernikahan, soal siapa yang duluan lulus, soal siapa bakal kerja dimana… tapi nyata2nya kini aku benar2 kehilangan, sahabat2ku itu sudah melesat jauh ke tempat-tempat tinggi, tinggal aku yang masih terseok di bawah..(saelah..)..tak perlu disesali, toh dari salah satu episode kesendirian itu, akhirnya aku bisa belajar, bahwa kesendirian itu bisa dinikmati layaknya kebersamaan…kita jadi  bisa dengar apa yang dulu tak terdengar, kita jadi bisa lihat apa yang dulu tersembunyi..hanya saja kita cuma tidak bisa berbagi..

Dalam kesendirian, kita bisa menangis sejadi-jadi atau bernyanyi menghibur diri, tapi kita harus tetap berjalan…
Dalam kesendirian, kita bisa teriak sekencang kencang atau diam sedalam-dalam
, tapi kita harus terus beranjak…
Dalam kesendirian, kita bisa memaki sepuas-puas atau berdo’a sekhusyuk khusyuk, tapi jangan pernah memasung langkah..
Kita boleh terlambat kawan, tapi jangan sampai jadi pecundang yang kembali pulang tanpa berjuang..

You’re right my friend, we will walk alone…sooner or later

Senja di petang itu

Posted: Desember 7, 2008 in Uncategorized

Kita masih saja duduk di tepian, mengenang senja yang baru pergi padahal sudah tiba gulita

Rasanya kupandang langit masih tetap jingga, kata temanku langit sudah hitam…sambil lalu ia beringsut menjauh kemudian pergi diam diam

Aku masih menghitung burung-burung di kejauhan yang terbang sama-sama, menukik sama-sama, lalu pada ujung mata hilang sama-sama…

Sambil tersenyum “bukankah kita sama seperti burung itu kawan?”… hening…rupanya ia sudah berjalan pulang

Aku teriak “ Hei kawan, bukankah kesini jalannya pulang?” ia tetap diam..

Waktu kupandang langit sekali lagi, ternyata memang langit sudahlah hitam

Aku pulang sendiri meninggalkan tepian, lalu tercenung….

malam ini, aku akan bermimpi tentang burung-burung senja yang terbang sama-sama, menukik sama-sama, lalu kemudian hilang sama-sama…

Promise

Posted: Desember 5, 2008 in Poem's

Biar lelah itu terbayar nanti bu…

Segala jerih yang kau lalu tiap pagi
hingga pagi
biar itu jadi bukti
hingga sayup angin sore yang berembus tak lagi perih nanti

Sendu yang kau sembunyi lewat diam
kala kau cerita tentang senja dulu yang semburam
sampai kinipun masih tak berubah muram…

Demi engkau, biar nanti aku nyala
hingga gelap itu habis tak sisa

Esok pagi, izinkan aku jadi mentari yang tak sempat datang kemarin hari
hingga ia tak ingkar lagi
sapa engkau lewat hangat lagu riang pagi
yang diam-diam ajak engkau turut bernyanyi

Sampai engkau tau pada akhirnya
belumlah hilang semua asa
masih ada segenggam cita
juga senyum penuh cinta
serupa sekuntum mimpi yang telah jadi nyata

dari aku…anakmu

Dalam tiap tanda tanya

Posted: Desember 5, 2008 in Poem's

Sudah setua ini punya usia, masih saja aku sering lupa, bahwa di tiap-tiap jejakan kaki yang kulalu kemarin harusnya ada yang bisa dipetik, entah satu, dua tetes hikmah..juga kebaikan
Sampai-sampai bosan aku ini bertanya, “kapan saatnya aku bisa belajar?” yang rupa-rupanya tak pernah bisa kujawab sendiri…

Dalam tiap tanda tanya itu, sesungguhnya, selalu aku berharap…bahwa esok nanti aku akan beranjak dari sini..lalu akan sekuat tenaga mengejar semua kawan lama yang sudah dulu pergi, tapi esok hari nada-nadanya selalu sama dengan hari ini, yang sama persis seperti kemarin..

Dalam tiap tanda tanya itu, sesungguhnya, selalu aku selipkan doa, doa yang sama, yang kulafal dalam dalam, sampai lupa..bahwa doa itu untuk meminta…